Assalamualaikum

Rabu, 30 Desember 2015

ILMU PENYAKIT MATA

PEMBAHASAN TUTORIAL SKENARIO - INFEKSI MATA LUAR

I.                   KERATITIS
Kornea dapat mengalami peradangan (keratitis) dengan atau tanpa adanya komponen infektif. Hal ini diikuti perbaikan jaringan , dengan pembentukan luka dan pembuluh darah, yang berakibat pengapuran kornea dan astigmatisma, sehingga terjadi penurunan visus. Keratitis dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kekurangan air mata, keracunan obat, alergi terhadap suatu jenis obat topikal dan reaksi konjungtivitis kronis. Keratitis memberikan gejala silau, mata merah, dan sensasi seperti kelilipan.
Keratitis adalah infeksi pada kornea yang biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena; yaitu keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel atau Bowman dan keratitis profunda atau keratitis interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma).

1.    Keratitis Pungtata
     Merupakakan keratitis pada kelenjar Bowman dengan adanya inflitrat berbentukbercak halus pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi virus antara lain virus herpes, herpes zoster, dan vaksinia, trakoma, radiasi, dan mata kering. Keratitis pungtata biasanya bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihat kelainan konjungtiva.
a.       Keratitis Superfisialis.
Pasien akan mengeluh sakit, silau, mata merah, dan merasa kelilipan. Pengobatan yang bisa diberikan adalah air mata buatan, tobramisisn tetes mata, dan siklopegik.
b.      Keratitis pungtata subepitel
Terjadi di daerah kelenjar bowman. Biasanya bilateral dan kronis, nampak kelainan konjungtiva.

2.    Keratitis Marginalis
     Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus. Bila tidak diobati dapat menyebabkan tukak pada kornea. Penyakit ini dapat terjadi berulang dengan adanya Streptococcus pneumonia, Hemophilus aegepty, Moraxella lacunata, dan Esrichia. Biasanya penderita akan mengeluh sakit seperti kelilipan, keluar banyak air mata, sakit, sengan fotofobia berat.
     Pengobatan yang dapat diberikan berupa vitamin B dan C dosis tinggi.

3.  Keratitis Interstisial
     Keratitis ini terjadi pada jaringan kornea lebih dalam, merupakan keratitis nonsupuratif profunda yang disertai dengan neovaskularisasi. Pasien biasanya akan mengeluhkan fotofobia, keluar banyak air mata, dan penurunan visus. Kelainan ini biasanya bilateral.
     Pada kornea keruh, sehingga iris susah dilihat. Terdapat injeksi siliar disertai pembuluh darah ke arah dalam sehingga memberikan gambaran merah pucat “salmon patch”. Pada keratitis akibat sifilis akan ditemukan trias Hutchinson, sadlenose, dan serologik positif terhadap sifilis.
     Pengobatan yang dapat diberikan berupa tetes mata atropin untuk mencegah sinekia.

4.  Keratitis bakterial
     Keratitis yang disebabkan oleh bakteri, dapat berupa bakteri gram negatif atau gram positif. Terapi antibitotik yang diberikan untuk bakteri gram negatif adalah tobramisin 15mg/ml, gentamisin 15mg/ml, polimiksin. Antibiotik untuk gram positif antaralain cefazolin 50mg/ml, vancomycin , dan basitrasin. Selain itu siklopegik diberikan untuk istirahat mata.

5. Keratitis Jamur
     Pasien biasanya akan mengeluh sakit mata hebat, berair, dan silau. Gejala yang bisa didapatkan pada pasien adalah infiltrat yang berhifa dan satelit. Disetai juga adanya cincin endotel dengan plak yang tampak bercabang. Diagnosis dibuat dengan preparat KOH10% menunjukkan adanya hifa. Pengobatan yang diberikan adalah gentamisin setiap 1-2 jam.

6.  Keratitis Flikten
     Merupakan reaksi imunologi terhadap stafilokokus aureus, koksidiodes imiitis serta bakteri patogen lainnya.Terdapat hiperemia konjungtiva, dan memberikan kesan kurangnya air mata. Secara subjektif, penderita biasanya datang karena ada benjolan putih kemerahan di pinggiran mata yang hitam. Apabila jaringan kornea terkena, maka mata berair, silau, dan dapat disertai rasa sakit dan penglihatan kabur.
     Terdapat benjolan putih kekuningan pada daerah limbus yang dikelilingi daerah konjungtiva yang hiperemis.Bila kornea terkena, dapat ditemukan keratitis dengan gambaran yang bermacam-macam; yaitu infiltrat dan neovaskularisasi. Gambaran yang khas adalah terbentuknya papula atau pustula pada kornea atau konjungtiva karena itu penyakit ini biasanya disebut kerato –konjungtivits flikten.
     Pada tukak dapat diberikan antibiotik topikal atau oral.

7. Keratitis lagoftalmus, akibat mata tidak dapat menutup sempurna, sehingga kornea menjadi kering dan mudah terkena trauma. Dapat dikarenakan parese Nervus VII.

8.  Keratitis neuroparalitik, akibat kerusakan Nervus V

II.           ULKUS KORNEA
Ulserasi kornea dapat meluas ke dua arah yaitu melebar dan mendalam. Ulkus yang kecil dan superfisial akan lebih cepat sembuh, kornea dapat jernih kembali.
Pada ulkus yang menghancurkan membran Bowman dan stroma, akan menimbulkan sikatriks kornea.
Gejala Subjektif sama seperti gejala keratitis. Gejala Objektif berupa injeksi siliar, hilangnya sebagaian jaringan kornea, dan adanya infiltrat. Pada kasus yang lebih berat dapat terjadi iritis disertai hipopion.

1.      Tukak karena Bakteri
Tukak streptokokus
Gambaran tukak kornea khas, tukak yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea (serpinginous). Tukak berwarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram. Tukak cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh Streptokokus Pneumonia.
Pengobatan dengan Sefazolin, Basitrasin dalam bentuk tetes, injeksi subkojungtiva, dan intravena.
Tukak stafilokokus
Pada awalnya berupa tukak yang berwarna putih kekuningan disertai infiltrat secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel lekosit. Walaupun terdapat hipopion tukak seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. Tukak kornea marginal biasanya bebas kuman dan disebabkan oleh reaksi hipersensitifitas terhadap Stafilokokus Aureus.
Tukak Pseudomonas
Biasanya dimulai dengan tukak kecil di bagian sentral kornea dengan infiltrat berwarna keabu-abuan disertai edema epitel dan stroma. Trauma kecil ini dengan cepat melebar dan mendalam serta menimbulkan perforasi kornea. Tukak mengeluarkan discharge kental berwarna kuning kehijauan.
Pengobatan diberikan Gentamaisin, tobramisin, karbensilin yang diberikan secara lokal subkonjungtiva serta intravena.

2.  Tukak Virus
     Tukak kornea oleh virus herpes simpleks cukup sering dijumpai.    Bentuk khas dendrit dapat diikuiti oleh vesikel-vesikel kecil di lapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan tukak. Tukak dapat juga terjadi pada bentuk diiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral.

3.  Tukak Jamur
   Tukak kornea oleh jamur akhir-akhir ini banyak ditemukan, hal ini dimungkinan oleh penggunaan antibiotik secara berlebihan dalam waktu yang lama atau pemakaian kortikosteroid jangka panjang, Fusarium dan sefalosporim  menginfeksi kornea setelah suatu trauma yang disertai lecet epitel.
   Pengobatan obat anti jamur dengan spektrum luas. Apabila memungkinkan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan tes sensitivitas untuk dapat memilih obat jamur yang spesifik.



III.             UVEITIS
Peradangan uvea biasanya unilateral, dapat disebabkan oleh efek langsung suatu infeksi atau merupakan fenomena alergi terhadap antigen dari luar atau antigen dari dalam.
Radang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin, dan sel-sel radang dalam humor akuos yang tampak pada penyinaran miring menggunakan sentolop atau akan lebi jelas bila menggunakan slit lamp, berkas sinar yang disebut fler.
Fibrin dimaksudkan untuk menghambat gerakan kuman akan tetapi justru mengakibatkan perlekatan-perlekatan misalnya perlekatan iris pada permukaan lensa (sinekia posterior).
Sel-sel radang yang terdiri atas limfosit, makrofag, sel plasma dapat membentuk presipitat keratik yaitu sel-sel radang yang menempel pada permukaan endotel kornea. Apabila presipitat keratik ini besar, berminyak disebut mutton fat keratic precipitate. Akumulasi sel-sel radang dapat pula terjadi pada tepi pupil disebut Koeppe nodules, bila di permukaan iris disebut Busacca nodules, yang bisa ditemukan juga pada permukaan lensa dan sudut bilik mata depan.
Pada iridosiklitis yang berat sel radang dapat sedemikian banyak hingga menimbulkan hipopion.

IV.                         GLAUKOMA AKUT
Seseorang yang datang dalam fase serangan akut glaukoma memberi kesan seperti orang yang sakit berat dan kelihatan payah; mereka diantar oleh orang lain atau dipapah. Penderita sendiri memegang kepalanya karena sakit, kadang-kadang pakai selimut. Hal inilah yang mengelabui dokter umum; sering dikiranya seorang penderita dengan suatu penyakit sistemik.
Dalam anamnesis, keluarganya akan menceritakan bahwa sudah sekian hari penderita tidak bisa bangun, sakit kepala dan terus muntah-muntah, nyeri dirasakan di dalam dan di sekitar mata. Penglihantannya kabur sekali dan dilihatnya warna pelangi di sekitar lampu.
Pada pemeriksaan, ditemukan bengkak palpebra, visus menurun (kadang sampai 1/~), konjungtiva : Injeksi siliar, kornea : edema, COA : dangkal atau sedang, pupil : middilatasi / iridoplegi, Iris : sinekia (-), lensa : glaukoma flicken, tekanan intraokular sangat tinggi, media refraksi keruh, funduskopi : papil hiperemis.
Terapi :
Glaukoma sudut tertutup merupakan keadaan darurat bedah mata.
Pemberian obat-obatan untuk menurunkan TIO pre-operasi :
·      Gliserin gliserol oral 1 ml/kgBB dalam larutan 50% dicampur air jeruk dingin
·      Pilokarpin 2%, 2 tetes tiap 15 menit selama beberapa jam
·      Manitol hipertonis 20% I.V 1,5-3 gram/kgBB bila gliserol tidak berhasil
·      Bila mual diberi asetazolamid 500 mg I.M
·      Untuk nyeri bila perlu meperidin 100 mg I.M atau analgetik lain.
Operatif tetap diperlukan baik tekanan intraokular sudah bisa diturunkan ataupun belum.

V.           ENDOFTALMITIS
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, biasanya akibat infeksi setelah trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Pasien biasanya mengeluhan nyeri dan mata merah. Berbentuk radang supuratif di dalam rongga mata dan struktur di dalam nya. Peradangan supuratif di dalam bola mata akan memberikan abses di dalam badan kaca. Penyebab endoftalmitis supuratif adalah kuman dan jamur yang masuk bersama trauma tembus (eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah (endogen).

Endoftalmitis diobati dengan antibiotika melalui periokular atau subkonjungtiva.
Dari hasil pemeriksaan akan ditemukan
-                      visus sangat menurun (1/300 sampai 1/~)
-                      sekret (+/-)
-                     konjungtiva bulbi /; hiperemis, injeksi siliaris, injeksi konjungtiva, kemosis
-                      kornea : keruh
-                      COA : hipopion
-                      Pupil, iris dan lensa biasanya sulit dinilai
-                      Funduskopi sulit dinilai
-                      USG : gambaran endoltalmitis
-                      TIO meningkat

Pengobatan yang dapat diberikan berupa Antibiotik topikal dan sistemik ampisilin 2 gram/hari dan kloramfenikol 3 gram/hari. Antibiotik yang sesuai untuk kausa bila kuman adalah stafilokok, basitrasin (topikal), metisilin (subkojuntiva dan IV).

MATA MERAH VISUS NORMAL

Konjungtivitis
Anatomi Konjungtiva
      Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris).

Secara anatomi, konjungtiva terdiri atas 3 bagian:
      Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus.
      Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya.
      Konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.

A. Definisi
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva dan penyakit ini adalah penyakit mata yang paling umum di dunia. Karena lokasinya, konjungtiva terpajan oleh banyak mikroorganisme dan faktor-faktor lingkungan lain yang mengganggu. Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental

Etiologi
Konjungtiva bisa mengalami peradangan akibat:
      1. Infeksi olah virus atau bakteri
      2. Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang
      3. Iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet  dari las listrik atau sinar matahari
Gejala dan Tanda Klinis
      Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu tergores atau panas, sensasi penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia. Jika ada rasa sakit agaknya kornea terkena. Sakit pada iris atau corpus siliaris mengesankan terkenanya kornea.
      Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, berair mata, eksudasi, pseudoptosis, hipertrofi papiler, kemosis (edem stroma konjungtiva), folikel (hipertrofi lapis limfoid stroma), pseudomembranosa dan membran, granuloma, dan adenopati pre-aurikuler.
Penatalaksanaan
·         Bergantung terhadap etiologi dari konjungtivitis nya tersebut, seperti bakteri/virus/jamur/alergi

HORDEOLUM

A definisi
Infeksi kelenjar pada palpebra

Klasifikasi
A. Hordeolum Eksternum
Infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll dengan penonjolan terutama ke daerah  kulit kelopak
B. Hordeolum Internum
       Infeksi kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus dengan penonjolan terutama ke daerah  kulit konjungtiva tarsal

Etiologi
Staphylococcus aureus
   (agen infeksi pada 90-95% kasus hordeolum)

Manifestasi klinis
  Gejala
             - Pembengkakan
             - Rasa nyeri pada kelopak mata
             - Perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata
  Tanda
             - Eritema
             - Edema
             - Nyeri bila ditekan
             - Seperti gambaran abses kecil



BLEFARITIS
Blefaritis atau juga disebut Radang Kelopak Mata merupakan peradangan pada kelopak mata. Biasanya mempengaruhi bagian tepi  dari kelopak mata. Penyakit blefritis bukanlah penyakit yang serius, hanya saja adanya hal tersebut memberikan rasa yang kurang nyaman. Adanya blefritis bisa berlangsung cukup lama atau kronis. Penyebab terjadinya Blefaritis secara umum adalah adanya bakteri. Sedikit rasa sakit biasanya akan menjadi gejala dari penyakit blefaritis ini. Sedangkan salah satu cara mengatasimengobatinya ialah dengan memberi obat antibiotik. 

Gejala Blefaritis (Radang Kelopak Mata)
Blefaritis (Radang Kelopak Mata) juga kan menimbulkan beberapa gejala, Gejala utama dari adanya blefaritis adalah adanya rasa sakit kelopak yang mengkin berdampak pada  Kedua mata.
Gejala lainnya Mata mungkin merasa berpasir dan merasa gatal, serta kelopak mata mungkin terlihat meradang atau berminyak. Blefaritis juga ditandai dengan adanya gejala serpihan kecil  pada kelopak mata, yang terlihat seperti serpihan kecil ketombe. Remah dapat berkembang di dasar bulu mata. Dan gejala berikutnya dari blefaris adalah Satu atau lebih kelenjar kecil dari kelopak mata (kelenjar meibom) dapat tertutup dan berisi dengan cairan berminyak. 

1.       

Viral
Bakteri
Alergi
Gatal
Minim
Minim
Hebat
Hiperemis
Umum
Umum
Umum
Air mata
Profuse
Sedang
Sedang
Eksudat
Jarang, air
Mukopurulen, purulen
Berserabut, lengket, putih
Sakit tenggorokan
Kadang kadang
Kadang kadang
Tidak
Injeksi konjungtivitis
Sedang
Mencolok
Ringan sedang
Papil
-
+/-
-
Nodus
++
+
-



2.      perbedaan hordeolum, kalazion dan blefaritis
Hordeolum
Kalazion
Blefaritis
Anterior
Posterior
Nodul infeksi atau inflamasi akut pada salah satu atau lebih kelenjar di palpebra
Radang granulomatosa yang timbul akibat proses inflamasi karena sumbatan pada kelenjar Meibom atau tersumbatnya sekresi kelenjar sebasea
Radang bilateral kronik yang umum di tepi palpebra yang dihubungkan dengan infeksi Staphylococcus aureus atau blefaritis seboroik
Peradangan kronik dan bilateral yang dikaitkan dengan tidak berfungsinya kelenjar Meibom (Meibomitis/Meibomian gland dysfunction)
Edema
Edema
Edema
Merah
Tidak/sedikit merah
Merah
Nyeri pada nodul
Tidak nyeri
Sakit
Biasanya timbul unilateral
Dapat menimbulkan astigmatis dan kaburnya penglihatan bila nodul tersebut tepat dibawah palpebra
Gatal pada tepi palpebra, rasa terbakar, iritasi terutama pada pagi hari hingga mata berair atau lelah



3.      Beda konjungtivitis, keratitis, dan ulkus kornea

a.             Konjungtivis
         Konjungtivitis adalah peradangan selaput yang meliputi bagian depan mata atau konjungtiva dan menyebabkan mata berwarna kemerahan.                           Konjungtivitis awalnya hanya menjangkiti satu mata, namun biasanya setelah beberapa jam akan menjangkiti kedua mata.
         Konjungtivitis memiliki gejala seperti mata berair dan terasa gatal. Selain itu, jika konjungtivitis terjadi akibat alergi, terkadang muncul lapisan lengket pada bulu mata.
         Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan konjungtiva mengalami peradangan dan munculnya penyakit konjungtivitis. Berikut ini adalah beberapa penyebabnya:
         •           Konjungtivitis alergi atau reaksi alergi terhadap tungau debu atau serbuk sari.
         •           Konjungtivitis iritasi yang terjadi akibat mata terkena unsur penyebab iritasi seperti sampo, air berklorin, atau bulu mata yang menggesek mata.
         •           Konjungtivitis infektif atau infeksi yang terjadi akibat virus atau bakteri.
         Obat tetes mata antibiotik bisa digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri pada konjungtivitis yang parah, namun kebanyakan konjungtivitis tidak memerlukan perawatan karena biasanya gejala akan hilang dalam dua pekan.
         Bersihkan kelopak dan bulu mata dengan menggunakan kapas dan air dari lapisan yang lengket atau berkerak. Sebelum gejala konjungtivitis hilang, jangan memakai lensa kontak terlebih dulu.
         Usahakan untuk menghindari pemicu alergi. Pengobatan dengan antihistamin biasanya digunakan untuk mengatasi konjungtivitis alergi. Untuk mencegah penyebaran, hindari berbagi penggunaan handuk atau bantal, dan cucilah tangan secara rutin.
         Kebanyakan konjungtivitis yang terjadi tidak menimbulkan masalah kesehatan serius, tapi bisa menimbulkan frustrasi, terutama pada penderita konjungtivitis alergi.

b. Keratitis
         Kerartitis dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kurangnya air mata, keracunan obat, reaksi alergi terhadap yang diberi topikal dan reaksi terhadap konjungtivitis menahun.
         Keratitis akan memberikan gejala mata merah, rasa silau, dan merasa kelilipan.
         Pengobatan dapat diberikan antibiotika, air mata buatan, dan sikloplegik.
         Keratitis memiliki gejala tampak sakit  sedang, dengan ada keluhan penurunan visus, dan tidak ada terdapat purulen , refleks pupil menurun, terdapat injeksi siliar .

               Keratitis Punguata
         Keratitis yang terkumpul di daerah membran Bowman, dengan filtrat berbentuk bercak-bercak halus.
         Keratitis punguata ini disebabkan oleh hal yang tidak spesifik dan dapat terjadi pada moluskum kontagiosum, acne rosasea, herpes simpleks, herpes zooster, blefaritis neuropatik, infeksi virus, vaksinia, trakoma, dan trauma radiasi , dry eyes, trauma, lagoftalmus, keracunan obat seperti neomisin, tobramisin, dan bahan pengawet lainnya.
Kelaninan dapat berupa :
b.            Keratitis punguata epitel
c.             Keratitis pungtata
d.            Pada konjungtivitis verna dan konjungtivitis atopik ditemukan bersama-sama sama papil raksasa
e.             Pada trakoma, pemfigoid, sindrom Steven Johnson pasca pengobatan radiasi dapat ditemukan bersama-sama dengan jaringan parut konjungtiva.
         Keratitis punguatata biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya gejala kelainan konjungtiva, ataupun tanda akut yang biasa terjadi pada dewasa muda.

               Keratitis marginal merupakan infiltrat
         Keratitis marginal merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus.
         Penyakit infeksi lokal konjungtiva dapat mengakibatkan keratitis kataral atau keratitis marginal ini. Keratitis marginal kataral biasanya terdapat pada pasien setengah umur dengan adanya blefarokonjungtivitis.
         Bila tidak diobati dengan baik maka akan mengakibatkan tukak kornea. Biasanya bersifat rekueren , dengan kemungkinan terdapatnya Streptococcus pneumonia , Hemophilus aegepty, Moraxella lacunata , dan Eschiria . infiltrat dan tukak yang terlihat diduga merupakan timbunan kompleks antigen-antibodi.
         Penderita akan mengeluh sakit, seperti kelilipan, lakrimasi, disertai fotofobia berat.
         Pada mata akan terlihat blefarospasme pada satu mata, injeksi konjungtiva, infiltrat, atau ulkus yang memanjang , dangkal unilateral dapat tunggal atau multipel, sering disertai neuvaskularisasi  dari arah limbus.
         Bila tidak diobati dengan baik maka akan mengakibatkan tukak kornea. Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika yang sesuai dengan penyebab infeksi lokalnya dan streoid  dosis ringan. Pada pasien dapat diberikan vitamin B dan C dosis tinggi. Pada kelainan yang indolen dilakukan kauterisasi dengan listrik ataupun AgNO3 di pembuluh darahnya atau dilakukan flep konjungtiva yang kecil.
         Penyulit yang terjadi berupa jaringan parut pada kornea yang akan menganggu penglihatan atau ulkus meluas dan menjadi lebih dalam.
         Keratitis marginalis trakomatosa merupakam merupakan keratitis dengan pembentukan membran pada kornea atas. Keadaan ini akan membentuk pannus, berupa keratitis dengan neovaskularisasi.

               Keratitis Interstisial
         Keratitis yang ditemukan pada jaringan kornea yang lebih dalam. Pada keratitis interstisial akibat lues kongenital didapatkan neovaskularisasi dalam, yang terlihat pada usia 5-20 tahun pada 80% pasien lues. Keratitis intersitisal dapat terjadi akibat alergi atau infeksi spiroket ke dalam stroma kornea dan akibat tuberkulosis.
         Keratitis interstisial merupakan keratitis nonsupuratif profunda disertai dengan neovaskularisasi . Keratitis ini juga disebut sebagai keratitis parenkimatosa.
         Biasanya akan memberikan keluhan fotofobia, lakrimasi, dan menurunnya visus. Pada keratitis interstisial maka keluhan bertaha seumur hidup.
         Seluruh kornea keruh sehingga iris sukar dilihat. Permukaan kornea seperti permukaan kaca. Terdapat injeksi siliar disertai dengan serbukan pembuluh ke dalam  sehingga memberikan gambaran merah kusam atau yang disebut “salmon patch”. Seluruh kornea dpaat menjadi warna merah cerah.
         Kelainan ini biasanya bilateral. Pada keadaan yang disebabkan tuberkulosis biasanya bilateral.
         Pada keratitis yang disebabkan oleh sifilis kongenital oleh sifilis kongenital biasanya ditemukan tanda-tanda sifilis kongenital lain, seperti  hidung pelana (sadlenose) dan trias Hutchinson, dan pemeriksaan serologik yang positif terhadap sifilis. Pada keratitis yang disebabkan oleh tuberkulosis terdapat gejala tuberkulosis lainnya.
         Pengobatan keratitis profunda tergantung penyebabnya. Pada keratitis diberikan sulfas atropin tetes mata untuk mencegah sinekia akibat terjadinya uveitid dan kortikostreoid tetes mata.
         keratitis profunda dapat juga terjadi akibat trauma, mata terpajan pada kornea degan daya tahan rendah.

               Keratitis bakterial

               Keratitis Jamur
         Biasanya dimulai dengan suatu rudapaksa pada kornea oleh ranting pohon, daun, dan bagian tumbuhan-tumbuhan.
         Jamur yang dapat mengakibatkan keratitis adalah Fusarium, Cehalocepharium, dan Curvularia. Pada masa sekarang infeksi jamur bertambah dengan pesat dan dianggap sebagai akibat sampingan pemakaian antibiotik dan kortikosteroid yang tidak cepat.
         Keluhan baru timbul setelah 5 hari rudapaksa atau 3 minggu kemudian. Pasien akan mengeluh sakit mata yang hebat, berair, dan silau.
         Pada mata akan terlihat infiltrat yang berhifa dan satelit bila terletak di dalam stroma. Biasanya disertai dengan cincin endotel dengan plaque tampak bercabang-cabang.

               Keratitis virus
         Keratitis pungtata superfisial memeberikan gambaran seperti infiltrat halus bertitik-titik pada dataran depan kornea yang dapat terjadi pad apenyakit eperti herpes simpleks, heres zooster, infeksi virus, vaksinia, dan trakoma.
         Keratitis yang terkumpul di daerah Bowman. Pada keratitis ini biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya gejala kelainan konjungtiva ataupun tanda akut.

               Keratitis Dimmer atau Keratitis Numularis
         Keratitis numularis bentuk keratitis dengan ditemukannya infiltrat yang bundar berkelompok dan tepinya berbatas sehingga memberikan gambaran halo.

               Keratitis filamentosa
         Keratitis yang disertai adanya filamen mukoid dan deskuamasi sel epitel pada permukaan kornea.

               Keratitis Alergi

               Keratitis Lagoftalmus

c. Ulkus (Tukak) Kornea

         Tukak kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea.
         Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang. Dikenal dua bentuk tukak pada kornea yaitu sentral dan marginal atau perifer.
         Tukak kornea perifer dapat disebabkan oleh reaksi toksik, alergi, autoimun, dan infeksi. Infeksi pada kornea perifer biasanya oleh kuman stafilokok aureous, h.influenza dan m.lacunata.
         Beratnya penyakit juga ditentukan oleh keadaan fisik pasien, besar dan virulensi inokulum. Selain radang dan infeksi penyebab lain tukak kornea ialah defisiensi vitamin A, lagoftalmus akibat parese saraf ke VIII, lesi saraf ke III atau neurotrofik dan ulkus Mooren.
         Penyebab tukak kornea adalah bakteri, jamur, akantamuba, dan herpes simpleks.
         Bakteri yang  sering mengakibatkan tukak kornea adalah Streptokokus alfa hemolitik, Stafilokokkus aureus, dll.
          Pada tukak kornea yang disebabkan jamur dan bakteri akan terdapat defek epitel yang dikelilingi leukosit polimorfonuklear.
         Bila infeksi disebabkan virus akan terlihat reaksi hipersensitivitas disekitarnya.
         Bentuk tukak marginal dapat fokal, multifokal, atau difus yang disertai  dengan masuknya pembuluh darah kedalamnya.
         Perjalanan penyakit tukak kornea dapat progresif , regresi atau membentuk jaringan parut. Pada proses kornea yang progresif dapat terlihat infiltrasi sel leukosit dan limfosit yang memakan bakteri atau nekrotik yang terbentuk.
         Pada pembentukan jaringan parut akan terdapat epitel, jaringan kolagen baru dan fibroblas.
         Tukak kornea biasanya terjadi sesudah terdapatnya trauma enteng yang merusak epitel epitel kornea.
         Tukak kornea akan memberikan  gejala mata merah sakit mata ringan hingga berat, fotofobia, penglihatan menurun, dan kadang kotor.
         Tukak kornea akan memberikan kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek epitel yang bila diberikan pewarnaan fluoresein akan berwarna hijau ditengahnya. Iris sukar dilihat karena keruhnya kornea akibat adanya edema dan infiltrasi sel radang pada kornea.
         Gejala yang dapat menyertai adalah terdapat penipisin kornea, lipatan Descemet, reaksi jaringan uvea (akibat ganguan vaskularisasi iris), berupa suar, hipopion, hifema, dan sinekia posterior.
         Daerah kornea yang tidak terkena akan tetap berwarna jernih dan tidak terjadi infiltrasi sel radang.

Perbandingan konjungtivitis, keratitis, dan tukak kornea :



Konjungtivitis
Keratitis
Tukak Kornea
Sakit
Kesat
Sedang
Sedang
Kotoran
Sering purulen
Hanya refleks epifora
Hanya refleks epifora
Fotofobia
Ringan
Ringan
Ringan
Kornea
Jernih
Fluoresein
Fluoresein
Iris
Normal
Normal
Normal
Visus
Normal
Menurun
Menurun
Sekret
+
-
-
Suar/fler
-
-/+
-/+
Pupil “fixed oral”
Normal
Menurun
Menurun
Tekanan
Normal
Normal
Normal
Vaskularisasi
a. konjungtiva - a. posterior
Siliar
Siliar
Injeksi
Konjungtival
Siliar
Siliar
Pengobatan
Antibiotik
Antibiotik sikloplegik
Antibiotik sikloplegik
Uji
Bakteri
Sensibilitas
Sensibilitas