Assalamualaikum

Kamis, 14 Maret 2013

Legenda Menarik



Legenda Saribumi



Jauh sebelum Indonesia merdeka, ada sebuah perkampungan yang terdapat di bagian selatan Pulau Sumatera. Perkampungan tersebut bernama Mepetbumi. Perkampungan tersebut berada di bawah kekuasaan kerajaan Kaeres. Keadaan desa tersebut bisa dibilang sangat makmur karena semua kebutuhan dan keinginan masyarakat desa tersebut dapat terpenuhi dengan SDA yang berlimpah dan SDM yang tinggi. Desa tersebut memiliki sebuah sumber daya alam yang tidak dimiliki wilayah lain, yaitu sebuah perkebunan Ginkgo Biloba. Masyarakat setempat memanfaakan daun tersebut sebagai obat-obatan dan bahan kosmetik.
Desa tersebut dipimpin oleh orang yang sangat bijaksana namun keras yang bernama Ahmad Antumsari. Dia menerapkan sebuah system saling gotong royong sesama warga di desanya. Ahmad Antumsari terkenal dengan keberaniannya dalam menentang segala kebatilan dan sifatnya yang sangat arif dalam .menyelesaikan masalah yang ada.
Pada suatu hari, datang manusia-manusia berkulit putih dan berbadan tinggi ke Desa Mepetbumi. Pada awal kedatangannya para bangsa asing tersebut disambut baik oleh para penduduk desa karena mereka hanya ingin berdagang dan mencari bahan obat-obatan. Namun, lambat laun mereka mulai memaksa warga setempat untuk memberikan lahan perkebunan para warga untuk dikuasai mereka. Setelah kejadian itu, muncullah sebuah konflik antara bangsa pendatang dengan bangsa pribumi.
Sengketa yang terjadi antara bangsa pendatang dengan warga setempat tidak dapat dihindarkan lagi karena bangsa pendatang bersikeras ingin menguasai perkebunan itu dan warga setempat mempertahankan tanah itu. Konflik tersebut mengakibatkan pertumpahan darah antara bangsa pendatang dan warga setempat. Banyak korban yang mati dan terluka akibat perselisihan tersebut. Hal tersebut mengakibatkan Kerajaan Kaeres ikut campur dalam sengketa tersebut. Namun, usaha perdamaian yang dilakukan oleh Kerajaan Kaeres tidak menghasilkan kesepakatan apapun sehingga konflik semakin memuncak. Warga Mepetbumi berjuang mengusir para pendatang dengan dipimpin oleh Ahmad Antumsari. Pertempuran dahsyat terjadi selama berminggu-minggu dan memakan banyak korban jiwa.
Pertempuran tersebut terjadi diberbagai tempat, termasuk juga di daerah perkebunan. Setelah berminggu-minggu pertempuran berlangsung, akhirnya bangsa pendatang mundur karena kehabisan pasukan dan mereka menyerah. Kejadian tersebut membawa suka cita bagi para warga setempat. Tapi, pertempuran tersebut meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi warga setempat karena banyak korban berjatuhan dan yang lebih parah lagi perkebunan Ginkgo Biloba yang selama ini menjadi tumpuan perekonomian warga setempat rusak akibat perang tersebut.
Setelah selesainya perang tersebut, Ahmad Antumsari kembali menstabilkan keadaan desanya dengan berbagai cara. Beliau menginstruksikan kepada seluruh warga untuk tidak terlalu memikirkan perkebunan tersebut. Beliau berkata, “Wahai seluruh warga, janganlah kalian bersedih akan kejadian yang selama ini terjadi. Tapi kita harus mengambil hikmah dari bencana ini, semua masalah, semua ujian, semua cobaan, pasti akan mudah kita lalui jika kita merapatkan barisan dan tetap kompak dalam menghadapi masalah kita”.
Salah satu cara Ahmad Antumsari untuk menstabilkan perekonomian warganya dengan mengganti perkebunan Ginkgo Biloba dengan perkebunan Gnetum Gnemon. Tidak cukup sampai disitu Ahmad Antumsari  juga menyuruh kepada seluruh warganya untuk menanam berbagai macam bunga di setiap rumah dan membuat sebuah taman bunga. Dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh para warga, akhirnya Desa Mepetbumi menjadi makmur kembali bahkan desa tersebut menjadi pusat dan tumpuan perekonomian dari Kerajaan Kaeres.
Sejak saat itu Desa Mepetbumi berganti nama menjadi Saribumi. Kata sari digunakan karena desa tersebut menjadi inti dan pusat perekonomian Kerajaan Kaeres dan di desa tersebut banyak sekali terdapat bunga pada saat itu. Kata bumi diartikan sebagai tempat dan berasal dari nama belakang dari nama desa yang lama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar